Tampilkan postingan dengan label Gender. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gender. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Mei 2015

Pengorganisasian dan Gender

Penulis: Navita K. Astuti

Pada tanggal 3 Mei 2015 hingga 5 Mei 2015 telah dilangsungkan coaching dan workshop pengorganisasian masyarakat dan gender bagi LSM-LSM di Sumba, bertempat di Hotel Sinar Tambolaka, Waitabula. Kegiatan ini dibawakan oleh Intan Darmawati, Theresia Iswarini, dibantu oleh Michael Zakarias dan Heri Irawan.

Di hari pertama, tanggal 3 Mei 2015, telah dilakukan pendampingan (coaching) oleh Intan Darmawati kepada tiap-tiap LSM yang bersedia. Sifatnya opsional, bagi LSM yang berminat untuk melakukan konsultasi.

Di hari kedua, tanggal 4 Mei 2015, diadakan workshop tentang pengorganisasian berbasis gender, yang diawali dengan menonton film Chocolate dan Burning Season. Dari kedua film tersebut, peserta diajak untuk merefleksikan tujuan dari sebuah pengorganisasian, prinsip-prinsip dan nilai apa yang perlu dipegang dalam pengorganisasian. Kemudian, Theresia Iswarini mengajak untuk merefleksikan, keberpihakan seperti apa yang dituju dalam sebuah pengorganisasian.

Di hari ketiga, tanggal 5 Mei 2015, pada sesi pagi masih melanjutkan pembahasan tentang pengorganisasian masyarakat serta hubungannya dengan kebudayaan yang mendarahdaging di dalam sebuah masyarakat tertentu. Dalam hari itu, Theresia Iswarini, mengajak peserta pelatihan untuk memikirkan tahapan sistematis dalam sebuah pengorganisasian. Pada sesi siang menjelang sore, workshop diakhiri dengan materi berjudul Kepemimpinan Perempuan yang dibawakan oleh Intan Darmawati.

Selasa, 21 April 2015

Anggota Kelompok Perempuan Mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Kelompok di Sumba Timur


Penulis: Kontributor Yasalti
 
Di Desa Watu Puda, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur, telah diselenggarakan acara pelatihan kepemimpinan kelompok perempuan. Kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 12 sampai 16 April 2015 yang lalu. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan di rumah ketua kelompok tenun di Sumba Timur.

Sesi-sesi yang diberikan dalam pelatihan kepemimpinan kelompok ini antara lain:
  1. Visioning: merumuskan mimpi dari masing-masing  peserta. Tujuan kegiatan ini adalah agar peserta dapat menemukan  jati diri dan mengubah cara pandang mereka dari pendekatan berbasis masalah kepada pendekatan berbasis kekuatan.
  2. Konsep Gender dan PKDRT. Tujuannya adalah:
    • Agar peserta mampu memahami tentang gender, dan dapat menyebarluaskan tentang gender
    • Peserta memahami KDRT serta bentuk-bentuk KDRT, dan mampu memahami bagaimana cara mencegah terjadinya KDRT.
  3. Konsep dasar kepemimpinan perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah : 
    • Peserta mengetahui dan memahami  tentang Kepemimpinan
    • Peserta bisa menyebutkan contoh – contoh pemimpin perempuan yang ada di wilayah kecamatan 
    • Peserta mengetahui dan paham tentang  beberapa jenis / tipe kepemimpinan 
    • Peserta mengetahui dan memahami beberapa gaya kepemimpinan 
    • Peserta mengetahui dan memahami tentang  unsur-unsur kepemimpinan yang diharapkan.
  4. SPAK ( Saya Perempuan Anti Korupsi ). Tujuannya:
    • Peserta mengetahui dan memahami tentang korupsi dan bagaimana mencegah korupsi.
    • Peserta mengetahui dari mana korupsi itu mulai dicegah dan diberantas.





Sabtu, 31 Januari 2015

Pelatihan Analisis Gender di Gallu Kalogho, Sumba Barat

Penulis: Kontributor Yayasan Sosial Donders

Pada tanggal 27-29 Januari 2015 telah diadakan pelatihan analisis gender di Gallu Kalogho, Desa Homba Karipit, Sumba Barat. Pelatihan ini diikuti oleh 36 orang peserta, yaitu para perempuan anggota kelompok dampingan Donders dan suami mereka.

Dalam pelatihan ini dilakukan permainan peran dan diskusi kelompok. Suasana saat kegiatan sangat ramai, bapak-bapak dan ibu-ibu sangat menikmati peran mereka masing-masing. Saat berdiskusi, mereka semua menyampaikan pendapatnya masing-masing. Suasana yang terjadi sangat hidup saat berdiskusi dan bermain peran.

Diharapkan, dengan pelatihan tersebut peserta memahami peran dan tugas antara perempuan dan laki-laki di dalam rumah tangga dan lingkungan sosial, serta keadilan dan ketidakadilan yang terjadi selama ini. Dengan pemahaman ini diharapkan akan terbangun kesadaran baru tentang hak-hak anak dan perempuan, sesuai Undang-undang KDRT no 23 tahun 2004. Selain itu, setiap anggota keluarga juga bisa memahami peran dan tanggung jawab anak, suami, dan isteri dalam kehidupan berumah tangga sehari-hari, dan mulai terlibat dalam kegiatan dan membuat jadwal kerja secara tertulis.

Senin, 19 Januari 2015

Pelatihan Pengarusutamaan Gender

Penulis: Kontributor Sandika

Pada tanggal 16 Januari 2015 telah diadakan pelatihan Pengarusutamaan Gender di sekretariat KWT Serba Guna Pamalala, Sumba Timur. Kegiatan ini diikuti oleh para anggota kelompok perempuan petani garam Serba Guna dampingan Sandika di Pamalala. Tujuan pelatihan ini adalah untuk mengidentifikasi proses yang selama ini sudah dilakukan, sampai sejauh mana peran yang dilakukan oleh suami dan istri dalam mendukung kegiatan memasak garam. Melalui pelatihan ini diharapkan dapat disimpulkan siapakah yang memiliki peran yang lebih dominan antara perempuan dan laki-laki, dan dalam proses apa saja mereka lebih berperan.

Beberapa hal yang diharapkan dapat berlangsung di dalam pelatihan ini adalah:

Peserta :
  • Mereka dapat menceritakan tentang proses kerja sama yang mereka sudah lakukan selama ini. 
  • Mereka dapat mengetahui atau mengingat kembali kegiatan yang mereka sudah lakukan dan menuangkan dalam gambar. 
Kelompok :
  • Ada data dan informasi tentang pembagian peran dalam mendukung kegiatan memasak garam.
Organisasi:
  • Ada data dan informasi terakit pembagian peran antara laki-dan perempuan dalam kegiatan memasak garam. 
  • Ada dokumentasi berupa gambar bercerita. 
  • Sebagai bahan untuk melakukan analisa terhadap peran yang laki-dan perempuan dalam mendukung kegiatan memasak garam. 

Dalam foto di samping terlihat Ibu Mariana Kahi Leba (sekreatris KWT Serba Guna) menunjukkan hasil gambarnya terkait pembagian peran antara ibu Mariana dan suaminya dalam mendukung proses memasak garam. Suasana pelatihan saat itu sangat ramai, karena mama-mama tidak terbiasa menggambar, apalagi menggambar alat atau sarana yang mereka gunakan selama ini. Mereka tidak menyangka bahwa mereka akan menggambarkan itu, walaupun hampir setiap saat mereka menggunakan itu. Karena itu mereka saling mengintip hasil gambar dengan teman di samping mereka untuk membandingkan dengan hasil gambar mereka. Ada anggota yang perlu dituntun oleh staf Sandika dalam proses menggambar. Ketika proses telah berjalan selama setengah jam, mereka protes dan mengatakan bahwa mereka tidak bisa menggambar, dan meminta untuk dipandu oleh staf Sandika