Penulis: Agustein Okamita
Hari Minggu tanggal 7 Juni 2015 adalah hari terakhir dari tujuh hari kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas organisasi-organisasi LSM Sumba. Sejak hari Sabtu para perwakilan LSM dari Sumba sudah berada di Rumah KAIL, Kampung Cigarugak, Desa Giri Mekar, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Pada hari Minggu itu mereka belajar tentang tata cara pengawetan makanan. Selain dihadiri oleh para peserta pelatihan dan para staff KAIL, kegiatan hari itu dihadiri juga oleh relawan KAIL dan warga sekitar Rumah KAIL, dan Rio, salah seorang fasilitator dalam pelatihan permakultur di Rumah KAIL beberapa waktu yang lalu.
Pembawa materi sesi pengawetan makanan ini adalah Ibu Susen Suryanto dari PIKPL Semanggi. Dalam kesempatan ini, Ibu Susen menjelaskan manfaat pengawetan makanan, yaitu agar makanan terhindar dari pembusukan dan bisa disimpan dalam waktu yang lebih lama. Ibu Susen juga menceritakan tentang tahap-tahap pengawetan makanan, yaitu dengan proses blansing (blanching) dan pengeringan. Proses blansing adalah proses pemanasan bahan makanan untuk mematikan mikroorganisme dan enzim-enzim yang mempercepat perusakan bahan makanan itu. Proses itu dilakukan dengan memanaskan bahan makanan di dalam air panas atau uap panas dalam waktu tertentu, lalu setelah itu bahan makanan diangkat dan langsung dimasukkan ke dalam air es. Setelah dilakukan proses blansing, makanan bisa dikeringkan dengan cara dijemur atau menggunakan alat pengering (dehidrator). Selain dengan proses pengeringan, bahan makanan juga bisa diawetkan dengan proses curing. Proses curing adalah proses pengawetan makanan dengan cara merendam makanan dalam larutan garam, gula, dan cuka. Proses curing ini biasanya dilakukan untuk membuat acar atau manisan buah-buahan.
Setelah mendengarkan penjelasan tentang manfaat dan cara-cara pengawetan bahan makanan, para peserta diajak untuk mempraktekkannya. Semua peserta bersama-sama membersihkan cabai rawit dan mengupas bawang putih. Setelah selesai dibersihkan, cabai rawit dan bawang putih di-blansing dalam air mendidih. Ibu Susen mendemonstrasikan cara-cara melakukan blansing terhadap cabai rawit dan bawang putih, dan selanjutnya para peserta ikut mencobanya secara bergantian. Selain proses blansing, para peserta juga belajar melakukan sterilisasi botol kaca. Cabai rawit dan bawang putih yang sudah di-blansing kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender. Setelah halus, sambal yang sudah jadi tersebut dimasukkan ke dalam botol-botol kaca. Proses selanjutnya adalah merebus botol berisi sambal dalam air mendidih atau mengukusnya selama kurang lebih setengah jam.
Para peserta mengikuti setiap proses pembelajaran dengan cukup antusias. Mereka banyak mengajukan pertanyaan, dan senang dengan pelajaran yang mereka peroleh hari itu. Tidak hanya itu, para peserta juga bisa membawa pulang sambal bawang yang mereka buat bersama-sama tadi.
KAIL Bandung
Tampilkan postingan dengan label Liputan kegiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan kegiatan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Juni 2015
Aktivis LSM Sumba kunjungi Baleendah dan Bandasari
Penulis: Melly Amalia
Pada Hari Lingkungan tanggal 5 Juni 2015 yang lalu, tim KAIL mendampingi delapan orang perwakilan LSM dari Sumba untuk belajar dari kunjungan lapangan di Bandung. Mereka mengunjungi bantaran Sungai Citarum di wilayah Baleendah dan kawasan Ecovillage di Bandasari, Soreang. Berikut ini adalah liputannya.
Sekitar jam tujuh pagi, kami sudah bersiap-siap melakukan perjalanan ke arah Bandung Selatan. Lokasi pertama yang akan kami kunjungi adalah Baleendah. Perjalanan menuju Baleendah cukup lancar dengan jarak tempuh sekitar satu jam. Kami sampai di depan salah satu pabrik dan disambut oleh seorang teman, Iwang dari PSDK. Iwang sangat familiar dengan kawasan ini karena berperan menjadi pendamping korban banjir di Baleendah.
Baleendah merupakan daerah langganan banjir di Kabupaten Bandung sejak puluhan tahun lalu sampai sekarang. Banjir tersebut semakin lama semakin parah. Saking parahnya, ketinggian banjir bahkan bisa melebihi atap rumah warga. Pada tahun 1970 sampai 1980-an, 90% wilayah Baleendah adalah daerah pertanian (persawahan). Namun sejak Kecamatan Baleendah direncanakan menjadi ibu kota Kabupaten Bandung pada tahun 1980-an, dimulailah pembangunan berbagai sarana dan prasarana di wilayah tersebut, termasuk di antaranya perumahan, tempat ibadah, sekolah. Pembangunan ini mengubah sebagian besar wilayah pertanian menjadi gedung-gedung. Saat ini, kondisi wilayah tersebut telah berubah sangat drastis. Banyak pabrik dan pemukiman yang berdiri di kawasan itu dan sayangnya sebagian besar limbahnya dibuang ke badan Sungai Citarum.
Bersama Iwang, kami menyusuri sudut-sudut pemukiman warga di sepanjang bantaran Sungai Citarum sampai ke posko banjir. Selama perjalanan, masih terlihat bekas batas banjir di tembok-tembok rumah warga. Beberapa rumah bahkan sampai dibiarkan kosong. Mungkin penghuninya sudah pindah dan tidak tinggal di sana lagi. Sepanjang perjalanan, banyak sampah yang berserakan di sekitar dan di dalam sungai. Bisa jadi ini merupakan salah satu penyebab banjir. Pada saat terjadi banjir, sampahnya pun ikut terbawa dan ada yang masih tersangkut di beberapa tiang atau penyangga. Di sepanjang Sungai, beberapa pipa pembuangan limbah dari pabrik juga terlihat jelas. Mengingat kawasan ini dikelilingi oleh pabrik-pabrik yang kemungkinan sebagian besar membuang limbahnya di Sungai Citarum, tak heran bila air yang ada dalam Sungai Citarum ini menjadi berwarna abu-abu kehitaman.
Akhirnya kami tiba di bantaran Sungai Citarum. Dari kejauhan tampak ada gundukan sampah di mana-mana. Di sekitar kolong jembatan Desa Baleendah yang menghubungkan antara Kampung Citeureup dan Kampung Cieunteung, terjadi banyak pendangkalan di Sungai Citarum. Kondisi air sangat keruh dengan warna abu kehitam-hitaman. Beberapa warga tampak sedang menjaring ikan. Entah ikannya banyak atau tidak, tapi kemungkinan besar ikan tersebut sudah bisa beradaptasi dengan racun-racun yang ada dalam aliran Sungai Citarum.
Akhirnya kami bertemu dengan Pak Jaja, ketua RW 20 Kampung Cieunteung, Desa Baleendah, Kecamatan Baleendah. Di sana terlihat jelas kondisi rumah-rumah yang terkena banjir. Hal ini bisa dipahami mengingat desa ini adalah salah satu tempat langganan banjir terparah. Bahkan bisa mencapai 3 meter! Banyak rumah-rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya.
Diskusi antara teman-teman LSM Sumba dan Pak Jaja pun mengalir. Dari penuturan Pak Jaja, ada dua hal yang menjadi penghambat penyelesaian masalah banjir di sana, yaitu limbah pabrik dan adanya banjir kiriman. Pak Jaja berharap agar mereka tidak mewariskan alam yang rusak untuk anak cucunya.
Saya pun mengamati saluran air yang ada di sekitar. Ternyata di sana pun airnya berwarna abu-abu kehitaman. Air sungai di sana telah bercampur dengan air yang berasal dari buangan limbah pabrik. Harapan Pak Jaja perlu kita dukung. Anak cucu kita seharusnya berhak mendapatkan air yang bersih dan alam yang subur.
Sekitar jam 10.30 kami pamit. Perjalanan dilanjutkan ke lokasi berikutnya, Ecovillage di Bandasari. Sebelum ke Bandasari, kami singgah ke Ciwidey, tepatnya daerah Kawah Putih, salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Kami tidak bisa berlama-lama di sana, karena kabut mulai turun dan bau belerang semakin menyengat. Kami melanjutkan menikmati kesejukan alam di tempat pemandian air panas, yang masih berada di daerah Ciwidey. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merendam kaki-kaki kami yang penat setelah berjalan-jalan di lokasi sebelumnya. Rasanya segar sekali.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandasari, belum lengkap rasanya bila kami tidak menyapa perut yang minta diisi. Kami menyempatkan diri makan siang di Restaurant Saung Gawir dengan menu khas Jawa Barat seperti ulukutek (campuran oncom dan leunca), karedok (Campuran sayur-sayuran dengan bumbu kacang, sejenis gado-gado), sambal terasi, lalap, tahu tempe, dan lain-lain.
Setelah satu jam perjalanan, sampailah kami di Desa Bandasari. Kawasan seluas dua hektar ini merupakan lahan bersama antara Kail dan YPBB. Di kawasan ini akan dibangun pemukiman dengan konsep ecovillage, termasuk di dalamnya lahan yang dirancang dengan prinsip-prinsip permakultur. Saat menginjakkan kaki di sana, dari kejauhan sudah tampak beberapa sudut pembenihan dan penanaman sayur-sayuran.
Sesampainya di sana, kami beristirahat sejenak menikmati minuman hangat (bandrek, kopi atau susu murni) dan makanan ringan yang sudah disediakan. Setelah cukup puas makan-makan, Gungun (YPBB) sebagai pemandu mengajak peserta mengelilingi kawasan Ecovillage Bandasari. Penjelajahan dimulai dari bagian perangkat biodigester yang berasal dari kotoran sapi dan kotoran manusia (septic tank). Hasilnya yang berupa gas dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur. Sementara hasil yang berupa pupuk digunakan untuk menyuburkan tanah di lahan yang akan digarap, lahan tanam dan kolam ikan.
Dari bagian biodigester, kami berjalan-jalan menjelajahi bagian-bagian lain kawasan. Ada lahan pembibitan dan sayuran yang siap panen. Semua sayuran itu terlihat sangat segar dan menggoda untuk dipanen. Pulangnya, kami dibekali sayuran organik tersebut J.
Teman-teman Sumba sangat menikmati suasana di Bandasari. Meski hari sudah hampir gelap, rasanya enggan sekali meninggalkan kesejukan dan kenyamanan Bandasari. Kalau tidak ingat waktu, ingin rasanya kami tinggal di sana lebih lama lagi. Foto Bersama.
Akhirnya sekitar pukul enam sore kami pulang menuju kota Bandung. Kami pulang kembali ke Bandung membawa kenangan bagaimana material yang ada dikelola dengan konsep siklus tertutup dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengelola kawasan tersebut. Beberapa peserta terinspirasi untuk membangun kampungnya dengan konsep serupa.
Secara keseluruhan acara kunjungan ini sangat menyenangkan dan membuka mata, hati dan pikiran teman-teman LSM Sumba. Semoga dengan membandingkan antara kondisi alam Sumba dan Bandung, masih ada secercah harapan untuk Pulau Sumba dalam melaksanakan pembangunan tanpa merusak kondisi alam mereka. Seperti kata Ibu Trouce Landukara (Oce), salah satu peserta dari LSM Sandika, bahwa setelah kunjungan ini ada banyak inspirasi yang bisa dilakukan sesampainya di Sumba nanti.
![]() |
| Kunjungan ke Baleendah |
Baleendah merupakan daerah langganan banjir di Kabupaten Bandung sejak puluhan tahun lalu sampai sekarang. Banjir tersebut semakin lama semakin parah. Saking parahnya, ketinggian banjir bahkan bisa melebihi atap rumah warga. Pada tahun 1970 sampai 1980-an, 90% wilayah Baleendah adalah daerah pertanian (persawahan). Namun sejak Kecamatan Baleendah direncanakan menjadi ibu kota Kabupaten Bandung pada tahun 1980-an, dimulailah pembangunan berbagai sarana dan prasarana di wilayah tersebut, termasuk di antaranya perumahan, tempat ibadah, sekolah. Pembangunan ini mengubah sebagian besar wilayah pertanian menjadi gedung-gedung. Saat ini, kondisi wilayah tersebut telah berubah sangat drastis. Banyak pabrik dan pemukiman yang berdiri di kawasan itu dan sayangnya sebagian besar limbahnya dibuang ke badan Sungai Citarum.
Bersama Iwang, kami menyusuri sudut-sudut pemukiman warga di sepanjang bantaran Sungai Citarum sampai ke posko banjir. Selama perjalanan, masih terlihat bekas batas banjir di tembok-tembok rumah warga. Beberapa rumah bahkan sampai dibiarkan kosong. Mungkin penghuninya sudah pindah dan tidak tinggal di sana lagi. Sepanjang perjalanan, banyak sampah yang berserakan di sekitar dan di dalam sungai. Bisa jadi ini merupakan salah satu penyebab banjir. Pada saat terjadi banjir, sampahnya pun ikut terbawa dan ada yang masih tersangkut di beberapa tiang atau penyangga. Di sepanjang Sungai, beberapa pipa pembuangan limbah dari pabrik juga terlihat jelas. Mengingat kawasan ini dikelilingi oleh pabrik-pabrik yang kemungkinan sebagian besar membuang limbahnya di Sungai Citarum, tak heran bila air yang ada dalam Sungai Citarum ini menjadi berwarna abu-abu kehitaman.
![]() |
| Bantaran Sungai Citarum |
Akhirnya kami bertemu dengan Pak Jaja, ketua RW 20 Kampung Cieunteung, Desa Baleendah, Kecamatan Baleendah. Di sana terlihat jelas kondisi rumah-rumah yang terkena banjir. Hal ini bisa dipahami mengingat desa ini adalah salah satu tempat langganan banjir terparah. Bahkan bisa mencapai 3 meter! Banyak rumah-rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya.
Diskusi antara teman-teman LSM Sumba dan Pak Jaja pun mengalir. Dari penuturan Pak Jaja, ada dua hal yang menjadi penghambat penyelesaian masalah banjir di sana, yaitu limbah pabrik dan adanya banjir kiriman. Pak Jaja berharap agar mereka tidak mewariskan alam yang rusak untuk anak cucunya.
Saya pun mengamati saluran air yang ada di sekitar. Ternyata di sana pun airnya berwarna abu-abu kehitaman. Air sungai di sana telah bercampur dengan air yang berasal dari buangan limbah pabrik. Harapan Pak Jaja perlu kita dukung. Anak cucu kita seharusnya berhak mendapatkan air yang bersih dan alam yang subur.
![]() |
| Daerah Wisata di Ciwidey |
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandasari, belum lengkap rasanya bila kami tidak menyapa perut yang minta diisi. Kami menyempatkan diri makan siang di Restaurant Saung Gawir dengan menu khas Jawa Barat seperti ulukutek (campuran oncom dan leunca), karedok (Campuran sayur-sayuran dengan bumbu kacang, sejenis gado-gado), sambal terasi, lalap, tahu tempe, dan lain-lain.
Setelah satu jam perjalanan, sampailah kami di Desa Bandasari. Kawasan seluas dua hektar ini merupakan lahan bersama antara Kail dan YPBB. Di kawasan ini akan dibangun pemukiman dengan konsep ecovillage, termasuk di dalamnya lahan yang dirancang dengan prinsip-prinsip permakultur. Saat menginjakkan kaki di sana, dari kejauhan sudah tampak beberapa sudut pembenihan dan penanaman sayur-sayuran.
Sesampainya di sana, kami beristirahat sejenak menikmati minuman hangat (bandrek, kopi atau susu murni) dan makanan ringan yang sudah disediakan. Setelah cukup puas makan-makan, Gungun (YPBB) sebagai pemandu mengajak peserta mengelilingi kawasan Ecovillage Bandasari. Penjelajahan dimulai dari bagian perangkat biodigester yang berasal dari kotoran sapi dan kotoran manusia (septic tank). Hasilnya yang berupa gas dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur. Sementara hasil yang berupa pupuk digunakan untuk menyuburkan tanah di lahan yang akan digarap, lahan tanam dan kolam ikan.
Dari bagian biodigester, kami berjalan-jalan menjelajahi bagian-bagian lain kawasan. Ada lahan pembibitan dan sayuran yang siap panen. Semua sayuran itu terlihat sangat segar dan menggoda untuk dipanen. Pulangnya, kami dibekali sayuran organik tersebut J.
![]() |
| Beragam Jenis Sayuran Organik di Bandasari |
Teman-teman Sumba sangat menikmati suasana di Bandasari. Meski hari sudah hampir gelap, rasanya enggan sekali meninggalkan kesejukan dan kenyamanan Bandasari. Kalau tidak ingat waktu, ingin rasanya kami tinggal di sana lebih lama lagi. Foto Bersama.
Akhirnya sekitar pukul enam sore kami pulang menuju kota Bandung. Kami pulang kembali ke Bandung membawa kenangan bagaimana material yang ada dikelola dengan konsep siklus tertutup dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengelola kawasan tersebut. Beberapa peserta terinspirasi untuk membangun kampungnya dengan konsep serupa.
Secara keseluruhan acara kunjungan ini sangat menyenangkan dan membuka mata, hati dan pikiran teman-teman LSM Sumba. Semoga dengan membandingkan antara kondisi alam Sumba dan Bandung, masih ada secercah harapan untuk Pulau Sumba dalam melaksanakan pembangunan tanpa merusak kondisi alam mereka. Seperti kata Ibu Trouce Landukara (Oce), salah satu peserta dari LSM Sandika, bahwa setelah kunjungan ini ada banyak inspirasi yang bisa dilakukan sesampainya di Sumba nanti.
***
Minggu, 10 Mei 2015
Workshop Monitoring dan Evaluasi
Oleh: Navita K. Astuti
Pada hari
Rabu, 6 Mei 2015, telah dilaksanakan workshop Monitoring & Evaluation yang
dibawakan oleh Any Sulistyowati, Theresia Iswarini dan Gita Meidita.
Pada sesi
pagi, Any membuka workshop dengan mengajak peserta untuk melihat kembali apa
saja yang sudah dipelajari dari proses penguatan kapasitas LSM bersama Hivos
dan Kail.
Kemudian,
setiap LSM yang menjadi peserta program penguatas kapasitas melakukan
presentasi mengenai capaian yang sudah dilakukan dalam setengah tahun yang
tengah berjalan.
Pada siang
hari, workshop dibawakan oleh Gita Meidita tentang standar monitoring dan
evaluasi dari Hivos. Pada sesi ini, Gita memaparkan apa perbedaan antara proses
evaluasi dan monitoring. Kemudian, Gita memaparkan apa saja tahap-tahap yang
dilakukan dalam monitoring dan evaluasi, aspek apa saja yang perlu diperhatikan
dalam melakukan monitoring dan evaluasi. Semua itu kontekstual dengan bidang
yang ditekuni/didampingi, misalnya : petani garam, penenun ataupun petani,
memiliki ciri khas yang perlu diperhatikan dalam proses monitoring dan
evaluasi.
Workshop
pada hari ini ditutup oleh Theresia Iswarini dengan membawakan topik mengenai
standar pelaporan narasi maupun keuangan dari Hivos.
Sharing Ilmu Pembuatan Video Oleh Heri Irawan
Penulis: Navita K. Astuti
Selasa, tanggal 5 Mei 2015, pukul 20.00, ruang
pertemuan Hotel Sinar Tambolaka malam itu terasa semarak. Meski telah menjalani
pelatihan kepemimpinan berbasis gender selama seharian penuh, tak tampak
tanda-tanda kelelahan pada wajah peserta.
Sejumlah 13 orang aktivis LSM Sumba tampak bersemangat
mengikuti sharing dan mini-workshop pembuatan video yang dipandu oleh Heri
Irawan untuk program pembuatan video.
Berawal dari perjalanan pembuatan video pada bulan
Desember 2014, oleh Heri Irawan dan tim, yang dilakukan di kampung-kampung asal
para aktivis tersebut, maka timbul keinginan dari para peserta untuk diajari
cara pembuatan video.
Gayung pun bersambut. Pada seri pelatihan bulan Mei
2015 ini, harapan peserta untuk mendapat pelatihan cara membuat video tercapai.
Sesi sharing pembuatan video dimulai dengan penayangan
video yang dibuat dari liputan kegiatan Kail-Hivos dalam acara Penguatan
Kapasitas LSM Sumba yang berdurasi sekitar 5 menit.
Kemudian Heri Irawan melanjutkan dengan sharing
ringan, berupa pertanyaan awal tentang siapa saja di antara peserta pernah
membuat video.
Pak Kris menanggapi dengan berbagi pengalamannya
dahulu ketika belajar membuat video.
Pengalaman Pak Kris saat belajar video, ia menyusun
skrip-nya dahulu, sound, hingga data-data pendukung, kemudian turun ke lapangan
dan merekam sesuai perencanaan.
Heri memaparkan, bahwa perencanaan video meliputi :
(1) Ide dan tema cerita (2) Sinopsis (3) Kerangka cerita (4) Skenario (5) Analisa
skenario (6) Storyboard.
Sesi sharing pendahuluan kemudian dilanjutkan dengan
materi teknis. Setiap peserta praktek cara mengedit video yang mereka miliki.
Rekaman video tersebut mereka peroleh dari HP maupun kamera yang mereka punya.
Dari program Vegas, yaitu program untuk mengedit
video, Heri Irawan memberikan tips cara-cara memotong gambar, memasukkan teks,
memasukkan musik untuk latar video.
Sesi ini diakhiri pada pukul 22.00, setelah peserta
mendapat sharing ilmu yang cukup dari Heri Irawan.
Sabtu, 09 Mei 2015
Pengorganisasian dan Gender
Penulis: Navita K. Astuti
Pada tanggal 3 Mei 2015 hingga 5 Mei 2015 telah dilangsungkan coaching dan workshop pengorganisasian masyarakat dan gender bagi LSM-LSM di Sumba, bertempat di Hotel Sinar Tambolaka, Waitabula. Kegiatan ini dibawakan oleh Intan Darmawati, Theresia Iswarini, dibantu oleh Michael Zakarias dan Heri Irawan.
Di hari pertama, tanggal 3 Mei 2015, telah dilakukan pendampingan (coaching) oleh Intan Darmawati kepada tiap-tiap LSM yang bersedia. Sifatnya opsional, bagi LSM yang berminat untuk melakukan konsultasi.
Di hari kedua, tanggal 4 Mei 2015, diadakan workshop tentang pengorganisasian berbasis gender, yang diawali dengan menonton film Chocolate dan Burning Season. Dari kedua film tersebut, peserta diajak untuk merefleksikan tujuan dari sebuah pengorganisasian, prinsip-prinsip dan nilai apa yang perlu dipegang dalam pengorganisasian. Kemudian, Theresia Iswarini mengajak untuk merefleksikan, keberpihakan seperti apa yang dituju dalam sebuah pengorganisasian.
Di hari ketiga, tanggal 5 Mei 2015, pada sesi pagi masih melanjutkan pembahasan tentang pengorganisasian masyarakat serta hubungannya dengan kebudayaan yang mendarahdaging di dalam sebuah masyarakat tertentu. Dalam hari itu, Theresia Iswarini, mengajak peserta pelatihan untuk memikirkan tahapan sistematis dalam sebuah pengorganisasian. Pada sesi siang menjelang sore, workshop diakhiri dengan materi berjudul Kepemimpinan Perempuan yang dibawakan oleh Intan Darmawati.
Pada tanggal 3 Mei 2015 hingga 5 Mei 2015 telah dilangsungkan coaching dan workshop pengorganisasian masyarakat dan gender bagi LSM-LSM di Sumba, bertempat di Hotel Sinar Tambolaka, Waitabula. Kegiatan ini dibawakan oleh Intan Darmawati, Theresia Iswarini, dibantu oleh Michael Zakarias dan Heri Irawan.
Di hari pertama, tanggal 3 Mei 2015, telah dilakukan pendampingan (coaching) oleh Intan Darmawati kepada tiap-tiap LSM yang bersedia. Sifatnya opsional, bagi LSM yang berminat untuk melakukan konsultasi.
Di hari kedua, tanggal 4 Mei 2015, diadakan workshop tentang pengorganisasian berbasis gender, yang diawali dengan menonton film Chocolate dan Burning Season. Dari kedua film tersebut, peserta diajak untuk merefleksikan tujuan dari sebuah pengorganisasian, prinsip-prinsip dan nilai apa yang perlu dipegang dalam pengorganisasian. Kemudian, Theresia Iswarini mengajak untuk merefleksikan, keberpihakan seperti apa yang dituju dalam sebuah pengorganisasian.
Di hari ketiga, tanggal 5 Mei 2015, pada sesi pagi masih melanjutkan pembahasan tentang pengorganisasian masyarakat serta hubungannya dengan kebudayaan yang mendarahdaging di dalam sebuah masyarakat tertentu. Dalam hari itu, Theresia Iswarini, mengajak peserta pelatihan untuk memikirkan tahapan sistematis dalam sebuah pengorganisasian. Pada sesi siang menjelang sore, workshop diakhiri dengan materi berjudul Kepemimpinan Perempuan yang dibawakan oleh Intan Darmawati.
Kamis, 30 April 2015
Lima LSM Sumba Belajar Melakukan Monitoring, Evaluasi dan Membuat Laporan
Penulis: Any Sulistyowati
Pada tanggal 20-25 April 2015 yang lalu, Tim Fasilitator KAIL berkeliling Sumba untuk melakukan pendampingan terhadap lima LSM peserta program peningkatan kapasitas LSM Sumba. Lima LSM ini adalah penerima hibah dari Hivos untuk program penguatan ekonomi perempuan di Pulau Sumba selama setahun mulai bulan September 2014. Pendampingan kali ini berfokus pada memperdalam proses monitoring, evaluasi dan pembuatan laporan proyek. Setiap organisasi mendapatkan jatah pendampingan selama sehari yang dipandu oleh seorang mentor.
Selama proses mentoring, para peserta dari setiap organisasi diajak merefleksikan pengalamannya dalam pelaksanaan proyek sampai saat ini. Pertama-tama, peserta diminta untuk menceritakan hal-hal yang mereka anggap sebagai capaian proyek mulai September 2014 – Maret 2015. Setelah itu mereka melakukan analisis capaian proyek dengan membandingkan dengan daftar indikator yang terdapat di dalam proposal/kontrak. Pada tahap ini mereka melihat kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah berjalan dan belum berjalan dan apa alasannya. Mereka juga melakukan penilaian sejauh mana indikator keberhasilan proyek telah dicapai sampai saat ini. Setelah itu mereka melakukan identifikasi gap dalam pengelolaan proyek. Hal-hal apa saja yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki. Setelah itu mereka berlatih membuat laporan berdasarkan hal-hal yang sudah diceritakan.
KAIL akan menyusun laporan proses pendampingan ini dan mengirimkannya kepada masing-masing organisasi. Laporan tersebut diharapkan dapat membantu organisasi-organisasi tersebut dalam melakukan monitoring dan evaluasi selanjutnya dan menyusun laporan akhir pelaksanaan proyeknya nanti.
![]() |
| Coaching dengan Yayasan Bahtera |
![]() |
| Coaching dengan Sandika |
Selasa, 31 Maret 2015
LSM Sumba belajar Sistem Teknologi dan Ekonomi untuk Pembangunan Berkelanjutan di Waingapu
Pada tanggal 24-28 Maret 2015 yang lalu, KAIL kembali menyelenggarakan pelatihan untuk peningkatan kapasitas LSM Sumba. Pelatihan kali ini mengangkat topik Pengembangan Sistem Ekonomi dan Teknologi untuk Pembangunan Berkelanjutan. Pelatihan ini berlangsung di Hotel Tanto, Kota Waingapu, Sumba Timur dan dihadiri oleh sepuluh orang perwakilan dari lima LSM Sumba, yaitu Yayasan Sosial Donders, Yasalti, Sandika, Lembaga Pelita dan Yayasan Bahtera.
Bertindak sebagai trainer adalah Tim Trainer dari YPBB, Bandung. Dalam pelatihan kali ini, peserta diajak untuk menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan di dalam konteks pemilihan teknologi dan sistem ekonomi untuk mencapai Sumba Iconic Island yang berkelanjutan.
Selama pelatihan, peserta dipandu untuk memahami berbagai sistem instrumen sosial, ekonomi, politik dan teknologi yang banyak digunakan saat ini, memahami paradigma di balik setiap pilihan teknologi dan sistem ekonomi berikut dampaknya terhadap keberlanjutan, melakukan analisis keberlanjutan berbagai pilihan teknologi dan sistem ekonomi berdasarkan konsep ekoefisiensi dan berlatih merancang sistem ekonomi dan pilihan teknologi yang sesuai untuk keberlanjutan Pulau Sumba, khususnya di wilayah dampingan masing-masing.
Materi utama pelatihan ini terdiri dari dua bagian, yaitu mengenai (1) Teknologi Berkelanjutan dan (2) Sistem Ekonomi Berkelanjutan. Dalam pokok bahasan mengenai Teknologi, materi-materi yang diberikan di antaranya adalah Mengenal Berbagai Bentuk Teknologi, Melakukan Kajian Nilai Keberlanjutan Teknologi dan Membuat Pemilihan Teknologi yang sesuai hukum-hukum Keberlanjutan. Dalam pokok bahasan Ekonomi, peserta belajar tentang Paradigma Sistem Sosial Ekonomi yang berjalan sekarang, prinsip-prinsip ekonomi yang berkelanjutan, dan berlatih merancang sebuah sistem ekonomi yang lebih berkelanjutan di kampung dampingan masing-masing. Di hari terakhir pelatihan, peserta belajar merancang sistem ekonomi dan teknologi yang mendorong keberlanjutan.
Salah satu aspek keberlanjutan yang banyak diulas di dalam pelatihan ini adalah siklus materi. Sistem ekonomi yang sekarang kebanyakan dirancang dengan siklus materi terbuka yang menyebabkan eksploitasi sumberdaya alam berlebihan, kebocoran aliran materi dan penumpukan materi yang tidak digunakan dalam bentuk limbah. Sistem ekonomi semacam ini tidak berkelanjutan karena selain berdampak pada alam, juga pada akhirnya akan menimbulkan masalah bagi manusia dalam bentuk berbagai penyakit, kelangkaan sumberdaya dan bencana alam. ***
Bertindak sebagai trainer adalah Tim Trainer dari YPBB, Bandung. Dalam pelatihan kali ini, peserta diajak untuk menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan di dalam konteks pemilihan teknologi dan sistem ekonomi untuk mencapai Sumba Iconic Island yang berkelanjutan.
Selama pelatihan, peserta dipandu untuk memahami berbagai sistem instrumen sosial, ekonomi, politik dan teknologi yang banyak digunakan saat ini, memahami paradigma di balik setiap pilihan teknologi dan sistem ekonomi berikut dampaknya terhadap keberlanjutan, melakukan analisis keberlanjutan berbagai pilihan teknologi dan sistem ekonomi berdasarkan konsep ekoefisiensi dan berlatih merancang sistem ekonomi dan pilihan teknologi yang sesuai untuk keberlanjutan Pulau Sumba, khususnya di wilayah dampingan masing-masing.
Materi utama pelatihan ini terdiri dari dua bagian, yaitu mengenai (1) Teknologi Berkelanjutan dan (2) Sistem Ekonomi Berkelanjutan. Dalam pokok bahasan mengenai Teknologi, materi-materi yang diberikan di antaranya adalah Mengenal Berbagai Bentuk Teknologi, Melakukan Kajian Nilai Keberlanjutan Teknologi dan Membuat Pemilihan Teknologi yang sesuai hukum-hukum Keberlanjutan. Dalam pokok bahasan Ekonomi, peserta belajar tentang Paradigma Sistem Sosial Ekonomi yang berjalan sekarang, prinsip-prinsip ekonomi yang berkelanjutan, dan berlatih merancang sebuah sistem ekonomi yang lebih berkelanjutan di kampung dampingan masing-masing. Di hari terakhir pelatihan, peserta belajar merancang sistem ekonomi dan teknologi yang mendorong keberlanjutan.
Salah satu aspek keberlanjutan yang banyak diulas di dalam pelatihan ini adalah siklus materi. Sistem ekonomi yang sekarang kebanyakan dirancang dengan siklus materi terbuka yang menyebabkan eksploitasi sumberdaya alam berlebihan, kebocoran aliran materi dan penumpukan materi yang tidak digunakan dalam bentuk limbah. Sistem ekonomi semacam ini tidak berkelanjutan karena selain berdampak pada alam, juga pada akhirnya akan menimbulkan masalah bagi manusia dalam bentuk berbagai penyakit, kelangkaan sumberdaya dan bencana alam. ***
Sabtu, 07 Maret 2015
Pelatihan Pembangunan Berkelanjutan di Sumba Barat Daya
Pelatihan ini bertujuan agar peserta memahami Prinsip-Prinsip Pembangunan Berkelanjutan, Kerangka Pikir Pembangunan Berkelanjutan sehingga dapat merumuskan secara mandiri arahan umum untuk untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Sumba serta dapat merumuskan langkah-langkah kecil mulai dari diri sendiri untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Sumba.
Pelatihan ini dibuka oleh Pater Michael dari Donders. Pater menceritakan visi Donders untuk Sumba yang akan datang. Pelatihan lima hari ini dipandu oleh Tim Trainer dari YPBB yang akan membawakan materi seputar Pembangunan Berkelanjutan. Adapun materi-materi yang diberikan antara lain adalah mengenai Konsep Daya Dukung, Hukum-hukum Keberlanjutan, Strategi Keberlanjutan, Paradigma Pembangunan Berkelanjutan, Kerangka Keberlanjutan, Infrastruktur Alam dan Visi Pembangunan Berkelanjutan. Selain ceramah, selama pelatihan, tim trainer menggunakan berbagai metode seperti menggambar kolaboratif, berbagai simulasi, diskusi kelompok dan menonton film. Pada hari kelima, pelatihan ditutup oleh Pater Michael dari Donders.
Dari hasil evaluasi pada akhir pelatihan, pada umumnya peserta dapat menerima dan memahami materi dengan baik. Beberapa materi dianggap secara khusus menarik karena sesuai dengan kondisi kampung yang didampingi dan juga kehidupan sehari-hari mereka. Konteks lokal pada konsep-konsep pembangunan berkelanjutan yang disampaikan, misalnya dalam bentuk studi kasus, sangat membantu peserta memahami konsep maupun menggagas aplikasinya pada program-program yang mereka jalankan. ***
Minggu, 18 Januari 2015
Lima LSM Sumba Belajar Bersama di Waikabubak
Penulis: Agustein Okamita
Pada tanggal 6 sampai 10 Januari 2015 diadakan sebuah lokakarya untuk meningkatkan kapasitas personil lima LSM di Sumba. Lokakarya ini dipandu oleh Tim KAIL, sebuah LSM di Bandung dengan materi pembelajaran mengenai Kepemimpinan Pribadi, Teori Perubahan, Pengelolaan Keuangan dan Waktu Rumah Tangga. Lokakarya kali ini berlangsung di Hotel Manandang, Kota Waikabubak, Sumba Barat. Pelatihan diikuti oleh sepuluh orang peserta dari lima organisasi di Sumba yaitu Lembaga Pelita, Yasalti, Yayasan Bahtera, Yayasan Sosial Donders, dan Sandika. Tim KAIL yang terlibat sebagai fasilitator/trainer adalah: Any Sulistyowati (Any), Bernadeta Ratna Kristanti Iswari (Deta), Melly Amalia (Melly) dan Agustein Okamita (Titin).
Hari pertama dimulai dengan pembukaan oleh Bernadeta Ratna Kristanti Iswari (Deta). Deta memandu peserta untuk menuliskan harapan-harapan dan kekuatiran-kekuatirannya selama lokakarya ini. Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman peserta selama pelatihan tahun 2014 yang lalu. Setelah istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan sesi Memahami Diriku, yang difasilitasi oleh Melly Amalia. Pada sesi ini, peserta diajak untuk melihat kembali kehidupan mereka sejak lahir sampai mereka dewasa, melalui penggambaran ‘Sungai Kehidupan’ mereka. Setelah selesai menggambar, para peserta berbagi cerita tentang ‘Sungai Kehidupan’ mereka kepada peserta yang lain.
Hari kedua dan ketiga, peserta belajar tentang Teori Perubahan yang dipandu oleh Any Sulistyowati (Any) dan seluruh tim fasilitator KAIL sebagai mentor kelompok. Di awal sesi, fasilitator mengajak peserta untuk berbagi hasil refleksi mereka selama hari pertama kepada satu orang peserta yang lain. Setelah membagikan hasil refleksi, para peserta menyusun visi atau panggilan hidup pribadi, dengan melihat kembali sungai kehidupan mereka. Pada sesi kedua, peserta diajak untuk menuangkan visi pribadi mereka ke dalam diagram TOC (Theory of Change/ Teori Perubahan). Setelah itu, para peserta saling menceritakan diagram yang telah mereka buat dengan salah satu temannya. Pada sesi terakhir, fasilitator menjelaskan tentang asumsi, dan kegiatan hari itu ditutup dengan menuliskan asumsi-asumsi untuk setiap tahapan pada diagram TOC masing-masing peserta.
Pada hari ketiga para peserta melanjutkan kegiatan dengan memeriksa kembali diagram TOC serta asumsi-asumsi yang telah mereka buat. Para peserta melakukan pemeriksaan dengan serius, sampai tiba makan siang. Setelah makan siang, acara hari itu dilanjutkan dengan penjelasan mengenai Dimensi Perubahan dan Ruang Perubahan (Sphere of Changes) oleh fasilitator. Sesi ini dilanjutkan dengan pemetaan Dimensi Perubahan dan Ruang Perubahan dari TOC masing-masing peserta. Pada sesi terakhir, para peserta bersama-sama membuat sebuah lagu berjudul Bintang Kehidupan berdasarkan visi mereka bersama.
Materi hari keempat berfokus pada materi Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga yang dibawakan oleh Agustein Okamita (Titin). Sesi pertama hari keempat dimulai dengan Pengantar Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga. Selanjutnya para peserta diajak untuk mengisi tabel pendataan pengeluaran selama satu bulan terakhir. Pengisian tabel ini ditujukan untuk menganalisis pengelolaan keuangan yang mereka lakukan selama ini. Sesi selanjutnya, para peserta berbagi hasil analisis pengelolaan keuangan rumah tangga masing-masing dengan semua peserta lain. Pada sesi terakhir fasilitator mengajak para peserta merefleksikan hasil analisis pengelolaan keuangan mereka.
Pada hari kelima, atau hari terakhir, peserta belajar tentang Pengelolaan Waktu yang dipandu oleh Melly Amalia (Melly). Sesi diawali dengan para peserta menyanyikan lagu ciptaan mereka bersama, yang berjudul ‘Bintang Kehidupan’. Pada sesi pertama peserta mencoba menganalisis penggunaan waktu mereka selama ini dengan mengisi tabel penggunaan waktu yang diberikan oleh fasilitator. Sesi kedua diisi dengan berbagi hasil pengelolaan waktu para peserta dengan dua peserta yang lain. Setelah itu, mereka berkumpul kembali untuk mendiskusikan hasil diskusi tiap kelompok dengan kelompok yang lain. Sesi terakhir adalah refleksi hasil praktek manajemen waktu dan rencana tindak lanjut proses peningkatan kapasitas tersebut. Seluruh rangkaian kegiatan workshop selama lima hari itu ditutup dengan membaca kembali harapan-harapan peserta, dan menyanyikan kembali lagu ‘Bintang Kehidupan’ yang disusun bersama oleh semua peserta.
![]() |
| Para Peserta Lokakarya dan Fasilitator |
Hari pertama dimulai dengan pembukaan oleh Bernadeta Ratna Kristanti Iswari (Deta). Deta memandu peserta untuk menuliskan harapan-harapan dan kekuatiran-kekuatirannya selama lokakarya ini. Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman peserta selama pelatihan tahun 2014 yang lalu. Setelah istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan sesi Memahami Diriku, yang difasilitasi oleh Melly Amalia. Pada sesi ini, peserta diajak untuk melihat kembali kehidupan mereka sejak lahir sampai mereka dewasa, melalui penggambaran ‘Sungai Kehidupan’ mereka. Setelah selesai menggambar, para peserta berbagi cerita tentang ‘Sungai Kehidupan’ mereka kepada peserta yang lain.
![]() |
| Berbagi Cerita Sungai Kehidupan |
Pada hari ketiga para peserta melanjutkan kegiatan dengan memeriksa kembali diagram TOC serta asumsi-asumsi yang telah mereka buat. Para peserta melakukan pemeriksaan dengan serius, sampai tiba makan siang. Setelah makan siang, acara hari itu dilanjutkan dengan penjelasan mengenai Dimensi Perubahan dan Ruang Perubahan (Sphere of Changes) oleh fasilitator. Sesi ini dilanjutkan dengan pemetaan Dimensi Perubahan dan Ruang Perubahan dari TOC masing-masing peserta. Pada sesi terakhir, para peserta bersama-sama membuat sebuah lagu berjudul Bintang Kehidupan berdasarkan visi mereka bersama.
Materi hari keempat berfokus pada materi Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga yang dibawakan oleh Agustein Okamita (Titin). Sesi pertama hari keempat dimulai dengan Pengantar Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga. Selanjutnya para peserta diajak untuk mengisi tabel pendataan pengeluaran selama satu bulan terakhir. Pengisian tabel ini ditujukan untuk menganalisis pengelolaan keuangan yang mereka lakukan selama ini. Sesi selanjutnya, para peserta berbagi hasil analisis pengelolaan keuangan rumah tangga masing-masing dengan semua peserta lain. Pada sesi terakhir fasilitator mengajak para peserta merefleksikan hasil analisis pengelolaan keuangan mereka.
Pada hari kelima, atau hari terakhir, peserta belajar tentang Pengelolaan Waktu yang dipandu oleh Melly Amalia (Melly). Sesi diawali dengan para peserta menyanyikan lagu ciptaan mereka bersama, yang berjudul ‘Bintang Kehidupan’. Pada sesi pertama peserta mencoba menganalisis penggunaan waktu mereka selama ini dengan mengisi tabel penggunaan waktu yang diberikan oleh fasilitator. Sesi kedua diisi dengan berbagi hasil pengelolaan waktu para peserta dengan dua peserta yang lain. Setelah itu, mereka berkumpul kembali untuk mendiskusikan hasil diskusi tiap kelompok dengan kelompok yang lain. Sesi terakhir adalah refleksi hasil praktek manajemen waktu dan rencana tindak lanjut proses peningkatan kapasitas tersebut. Seluruh rangkaian kegiatan workshop selama lima hari itu ditutup dengan membaca kembali harapan-harapan peserta, dan menyanyikan kembali lagu ‘Bintang Kehidupan’ yang disusun bersama oleh semua peserta.
***
Minggu, 21 Desember 2014
Pendampingan Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif untuk lima LSM di Sumba
Penulis: Any Sulistyowati
Pada tanggal 3-13 Desember 2014 yang lalu, diselenggarakan pendampingan mengenai Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif di lima LSM peserta program peningkatan kapasitas LSM Sumba. Lima LSM ini adalah penerima hibah dari Hivos untuk program penguatan ekonomi perempuan di Pulau Sumba pada periode September 2014 – September 2015.
Proses pendampingan dilakukan secara berkeliling di kelima organisasi. Bertindak sebagai pendamping adalah Waspotrianto (ELSPPAT), Abdul Jalil (ARKOM), dan Panji Jarmiko (ARKOM). Masing-masing organisasi mendapatkan kesempatan 3-5 hari pendampingan untuk topik tersebut. Proses belajar dapat berlangsung di kantor organisasi masing-masing atau di lapangan dengan metode-metode yang dirancang sesuai dengan kebutuhan masing-masing organisasi.
Sebelum melakukan proses pendampingan, para pendamping mendiskusikan materi dan bahan-bahan belajar dengan peserta melalui diskusi yang partisipatif. Harapannya agar setiap organisasi mendapatkan manfaat maksimal dari proses pendampingan ini. Selain ketiga mentor, para peserta juga didampingi oleh Intan Darmawati untuk memperkuat aspek gender di dalam proses pengorganisasian mereka. ***
Pada tanggal 3-13 Desember 2014 yang lalu, diselenggarakan pendampingan mengenai Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif di lima LSM peserta program peningkatan kapasitas LSM Sumba. Lima LSM ini adalah penerima hibah dari Hivos untuk program penguatan ekonomi perempuan di Pulau Sumba pada periode September 2014 – September 2015.Proses pendampingan dilakukan secara berkeliling di kelima organisasi. Bertindak sebagai pendamping adalah Waspotrianto (ELSPPAT), Abdul Jalil (ARKOM), dan Panji Jarmiko (ARKOM). Masing-masing organisasi mendapatkan kesempatan 3-5 hari pendampingan untuk topik tersebut. Proses belajar dapat berlangsung di kantor organisasi masing-masing atau di lapangan dengan metode-metode yang dirancang sesuai dengan kebutuhan masing-masing organisasi.
Sebelum melakukan proses pendampingan, para pendamping mendiskusikan materi dan bahan-bahan belajar dengan peserta melalui diskusi yang partisipatif. Harapannya agar setiap organisasi mendapatkan manfaat maksimal dari proses pendampingan ini. Selain ketiga mentor, para peserta juga didampingi oleh Intan Darmawati untuk memperkuat aspek gender di dalam proses pengorganisasian mereka. ***
Rabu, 10 Desember 2014
Lokakarya Pembukaan Peningkatan Kapasitas LSM Sumba
Penulis: Any Sulistyowati
Lokakarya Pembukaan Peningkatan Kapasitas LSM Sumba Lokakarya ini adalah kegiatan pertama dari rangkaian program peningkatan kapasitas untuk LSM Sumba yang difasilitasi oleh Kuncup Padang Ilalang (KAIL), sebuah LSM dari Bandung yang berfokus untuk mendukung kerja-kerja perubahan sosial. Lokakarya ini diikuti oleh lima LSM di Sumba yang terpilih untuk mendapatkan dukungan dana dari Hivos untuk program penguatan perempuan di Sumba. Kelima LSM tersebut adalah: Yayasan Sosial Donders, Yayasan Wali Ati (Yasalti), Yayasan Bahtera, Sandika dan Lembaga Pelita. Peserta pelatihan berjumlah 12 orang perwakilan dari kelima organisasi.
Lokakarya ini berlangsung di Hotel Elvin, Waingapu, pada tanggal 1-2 Desember 2014. Hasil yang diharapkan dari lokakarya ini adalah peserta berbagi hasil pelaksanaan proyek HIVOS di organisasi masing-masing dan perencanaan pendampingan untuk peningkatan kapasitas organisasi untuk materi Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif.
Bertindak sebagai fasilitator adalah Any Sulistyowati dan B. Ratna K. Iswari dari KAIL. Sementara sebagai narasumber Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif adalah Waspotrianto dari ELSPPAT, Abdul Jalil dan Panji Jarmiko dari ARKOM Jogya. Intan Darmawati sebagai spesialis gender berperan untuk mengintegrasikan aspek gender di dalam materi-materi tersebut.
Selama dua hari lokakarya ini peserta berproses bersama untuk saling berbagi pengalaman penerapan proyeknya di lapangan dan mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kapasitas mereka. Kemudian mereka menyepakati kalender kegiatan peningkatan kapasitas selama setahun ke depan. Mereka juga mendengarkan presentasi tentang Sumba Iconic Island dari Ibu Gita Meidita sebagai perwakilan dari HIVOS. Pada bagian akhir, mereka menyepakati jadwal pendampingan untuk materi Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif di organisasi masing-masing.
Lokakarya Pembukaan Peningkatan Kapasitas LSM Sumba Lokakarya ini adalah kegiatan pertama dari rangkaian program peningkatan kapasitas untuk LSM Sumba yang difasilitasi oleh Kuncup Padang Ilalang (KAIL), sebuah LSM dari Bandung yang berfokus untuk mendukung kerja-kerja perubahan sosial. Lokakarya ini diikuti oleh lima LSM di Sumba yang terpilih untuk mendapatkan dukungan dana dari Hivos untuk program penguatan perempuan di Sumba. Kelima LSM tersebut adalah: Yayasan Sosial Donders, Yayasan Wali Ati (Yasalti), Yayasan Bahtera, Sandika dan Lembaga Pelita. Peserta pelatihan berjumlah 12 orang perwakilan dari kelima organisasi.
Lokakarya ini berlangsung di Hotel Elvin, Waingapu, pada tanggal 1-2 Desember 2014. Hasil yang diharapkan dari lokakarya ini adalah peserta berbagi hasil pelaksanaan proyek HIVOS di organisasi masing-masing dan perencanaan pendampingan untuk peningkatan kapasitas organisasi untuk materi Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif.
Bertindak sebagai fasilitator adalah Any Sulistyowati dan B. Ratna K. Iswari dari KAIL. Sementara sebagai narasumber Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif adalah Waspotrianto dari ELSPPAT, Abdul Jalil dan Panji Jarmiko dari ARKOM Jogya. Intan Darmawati sebagai spesialis gender berperan untuk mengintegrasikan aspek gender di dalam materi-materi tersebut.
![]() |
| Donders |
![]() |
| Yayasan Bahtera |
![]() |
| Yasalti |
![]() |
| Lembaga Pelita Sumba |
![]() |
| Sandika |
![]() |
| Pleno1: Donders |
![]() |
| Pleno 2: Yasalti |
![]() |
| Pleno 3: Yayasan Bahtera |
![]() |
| Pleno 4: Lembaga Pelita Sumba |
![]() |
| Pleno 5: Sandika |
Langganan:
Postingan (Atom)


































