Tampilkan postingan dengan label KAIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAIL. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2015

Evaluasi Program Peningkatan Kapasitas LSM Sumba

Oleh: Navita K. Astuti

Pada hari Senin, tanggal 21 September 2015, diadakan kegiatan evaluasi program peningkatan kapasitas LSM Sumba. Kegiatan evaluasi ini dibagi dalam dua sesi. Pertama, evaluasi program secara umum, yang difasilitasi oleh Shintia Arwida, seorang fasilitator eksternal yang sehari-harinya bekerja di sebuah LSM di Bogor. Kedua, evaluasi program khusus pada aspek gender, yang difasilitasi oleh Intan dari KAIL dan Chusana dari HIVOS.

Bertempat di Hotel Tanto, Waingapu, kegiatan sesi pertama bersama Shintia Arwida berlangsung dari pukul 9.20 hingga 12.20, Metode evaluasi yang dilakukan adalah dengan memberikan kepada peserta serangkaian pertanyaan seputar kegiatan di lembaga mereka dalam mendampingi masyarakat Sumba. Jawaban-jawaban dituliskan di selembar kertas dengan diberi kode terlebih dahulu untuk setiap komponen pertanyaan yang diberikan.


Dalam evaluasi program secara umum, hal-hal yang ingin dilihat adalah :
  • Kemampuan untuk mengambil tindakan dari komitmen. 
  • Kemampuan mengaplikasikan materi di lapangan 
  • Kemampuan untuk beradaptasi dan memperbaiki diri. 
  • Kemampuan untuk mencapai kesinambungan

Pihak-pihak yang dievaluasi yaitu:
  1. KAIL sebagai pendamping, 
  2. Yayasan Bahtera, Lembaga Pelita Sumba, Yasalti, Sandika, Yayasan Sosial Donders sebagai partner di Sumba 
  3. Proses peningkatan kapasitas.

Di sesi kedua yang berlangsung dari pukul 13.30 sampai 16.00, Chusana dan Intan memfasilitasi proses evaluasi peningkatan kapasitas dalam aspek program perempuan dan energi terbarukan. Evaluasi ini dibagi lagi ke dalam dua kategori, evaluasi pemahaman individu terkait aspek gender dan evaluasi pemahaman serta penerapan lembaga terkait aspek gender. Metode evaluasi diberikan dengan cara tanya jawab secara lisan dan tertulis.

Kegiatan evaluasi yang terdiri dari dua sesi ini dilanjutkan dengan pembacaan rekap evaluasi sementara dari Shintia, kemudian dilanjutkan dengan tayangan video rekaman kegiatan peningkatan kapasitas LSM Sumba yang telah berlangsung selama satu tahun. Kegiatan evaluasi pada hari ini diakhiri dengan pembagian sertifikat, flashdisk berisi materi pelatihan dan handout pelatihan oleh Any sebagai koordinator kegiatan dari KAIL dan Gita dari HIVOS.



Minggu, 27 September 2015

Kunjungan ke Petani Garam di Desa Pamalala - Waingapu

Oleh: Navita K. Astuti

Pada tanggal 20 September 2015 pukul 15.00 – 18.00, tim KAIL yang terdiri dari Any, Vita, Intan serta tim dari HIVOS yaitu Gita dan Chusana, mengadakan kunjungan ke Desa Pamalala, Waingapu. Desa Pamalala adalah wilayah kerja para petani garam yang didampingi oleh LSM Sandika.

 Selama 1 jam, kami dibawa berkeliling dari satu rumah produksi garam ke rumah produksi lainnya. Di dalam setiap rumah, terdapat bak besar yang digunakan untuk memasak garam yang telah mereka tampung sebelumnya di penampung yang terletak di halaman depan rumah produksi garam. Kami juga ditunjukkan bak masak garam model lama yang menghasilkan lebih banyak asap dibandingkan dengan bak masak model baru yang lebih tertutup dan kurang menghasilkan asap. Dengan meminimalisir asap, maka kesehatan pernapasan para petani garam menjadi lebih baik.

Setelah berkeliling, kami duduk bersama para petani garam untuk berdiskusi dengan mereka. Sebagian besar dari para peserta diskusi adalah perempuan. Chusana dan Intan mengajak para peserta diskusi untuk melihat konteks kerja pembuatan garam melalui analisis GALS (Gender Action Learning System).


Metode analisis ini dilakukan dengan cara meminta para peserta diskusi menggambar sebuah pohon besar. Penempatan gambar peran sesuai karakter gender pada pohon tersebut akan memperlihatkan apakah perempuan bekerja lebih banyak daripada laki-laki.

Dari gambar yang dihasilkan, Chusana dan Intan mengajak para petani garam tersebut untuk melihat kembali, apakah ada dari gambar tersebut yang ingin mereka ubah. Jika ada, mereka diminta untuk melingkari bagian-bagian yang ingin mereka ubah.

Melalui metode analisis GALS ini, para petani garam diajak melihat :

  1. Pembagian peran yang dilakukan di rumah tangga mereka dan kaitannya dengan pekerjaan pembuatan garam. 
  2. Proses pengambilan keputusan yang terjadi di rumah tangga mereka.
  3. Bagaimana pembagian kepemilikan atas aset yang ada di rumah tangga mereka.

***

Kamis, 17 September 2015

Pendampingan Pembuatan Laporan Akhir LSM Sumba

Oleh: Deta Ratna Kristanti

Pendampingan Pembuatan Laporan Akhir LSM Sumba merupakan bagian akhir dari rangkaian Program Peningkatan Kapasitas LSM Sumba yang dilakukan sejak bulan September 2014 hingga bulan September 2015 dengan pendamping tim KAIL. Laporan Akhir berisi cerita dan refleksi kegiatan pendampingan masing-masing LSM Sumba terhadap kelompok perempuan di daerah dampingan masing-masing.

Kegiatan Pendampingan Pembuatan Laporan Akhir dilakukan tim KAIL untuk membantu masing-masing LSM agar dapat mengungkapkan cerita yang kaya dan mendalam tentang proses pendampingan mereka, agar dapat menyusun cerita secara lebih terorganisasi, memilih dan menekankan poin-poin penting untuk dimasukkan dalam laporan, serta menggali refleksi tentang proses yang dialami masing-masing perwakilan LSM selama mendampingi kelompok maupun selama menjalani program peningkatan kapasitas di KAIL. Tim KAIL juga membantu memberikan masukan dari sisi tata bahasa dan logika berbahasa Indonesia dalam proses penyusunan laporan.

Kegiatan Pendampingan Pembuatan Laporan Akhir LSM Sumba terbagi dalam 2 tahap. Tahap pertama adalah temu muka dengan para peserta dari 5 LSM Sumba yang berlangsung dari tanggal 5 sampai dengan 9 September 2015 di Hotel Sinar Tambolaka, Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan jadwal sebagai berikut:
1. Yayasan Bahtera – 5 September 2015
2. Lembaga Pelita Sumba – 6 September 2015
3. Yayasan Wali Ati (Yasalti) – 7 September 2015
4. Yayasan Peduli Kasih (Sandika) – 8 September 2015
5. Yayasan Sosial Donders (YSD) – 9 September 2015

Pada masing-masing jadwal tersebut, dua orang dari masing-masing LSM Sumba hadir untuk mengikuti kegiatan ini, kecuali YSD yang hanya mengirimkan 1 orang perwakilan. Tim KAIL yang melakukan kegiatan Pendampingan Pembuatan Laporan Akhir ini adalah Deta Ratna Kristanti dan Intan Darmawati. Selain itu, hadir juga Michael Zakarias Santoso yang memfilmkan semua sesi pendampingan pembuatan laporan serta melakukan sesi evaluasi setelah kegiatan pendampingan pembuatan laporan akhir selesai.

Pada kegiatan Pendampingan Pembuatan Laporan Akhir LSM Sumba, tim KAIL menggali cerita pendampingan kelompok dari peserta yang hadir pada kegiatan ini. Intan terutama menggali cerita pendampingan kelompok dari sisi gender yang akan dimasukkan dalam laporan, sedangkan Deta menggali cerita secara umum terutama cerita dalam 5 bulan terakhir sejak proses coaching terakhir dilakukan (April 2015). Setelah itu, Deta memeriksa dan memberikan masukan terhadap draft laporan yang sudah disiapkan peserta sebelumnya, termasuk menyampaikan masukan-masukan terkait pemindahan draft ke dalam kerangka laporan serta kelengkapannya.

Dalam sesi evaluasi, Michael menyampaikan sejumlah pertanyaan reflektif yang berkaitan dengan Program Peningkatan Kapasitas LSM Sumba yang telah berlangsung selama 1 tahun. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan antara lain: Bagian mana yang paling diingat dari seluruh program peningkatan kapasitas LSM Sumba? Bagian mana yang dirasa paling bermanfaat bagi Bapak/ Ibu?

Tahap kedua dari kegiatan Pendampingan Pembuatan Laporan Akhir LSM Sumba adalah mengedit dan merevisi draft laporan akhir dari masing-masing LSM hingga menjadi laporan final. Kegiatan mengedit dan merevisi draft laporan ini dilakukan secara jarak jauh melalui e-mail antara penyusun laporan akhir dan tim KAIL (Deta dan Intan). Kegiatan ini dilakukan antara bulan September 2015 hingga November 2015. Prosesnya: LSM mengirimkan draft melalui e-mail, diperiksa dan diberi masukan oleh tim KAIL dan dikirimkan kembali pada LSM. Kemudian LSM memperbaiki draft laporan dan mengirimkan revisinya kembali pada tim KAIL. Proses ini terjadi dalam beberapa tahapan hingga akhirnya LSM mengirimkan laporan final kepada HIVOS. Pada setiap LSM proses ini terjadi, kecuali YSD yang langsung mengirimkan laporan final kepada HIVOS.

Kamis, 11 Juni 2015

Aktivis LSM Sumba kunjungi Baleendah dan Bandasari

Penulis: Melly Amalia

Pada Hari Lingkungan tanggal 5 Juni 2015 yang lalu, tim KAIL mendampingi delapan orang perwakilan LSM dari Sumba untuk belajar dari kunjungan lapangan di Bandung. Mereka mengunjungi bantaran Sungai Citarum di wilayah Baleendah dan kawasan Ecovillage di Bandasari, Soreang. Berikut ini adalah liputannya. 

Kunjungan ke Baleendah
Sekitar jam tujuh pagi, kami sudah bersiap-siap melakukan perjalanan ke arah Bandung Selatan. Lokasi pertama yang akan kami kunjungi adalah Baleendah. Perjalanan menuju Baleendah cukup lancar dengan jarak tempuh sekitar satu jam. Kami sampai di depan salah satu pabrik dan disambut oleh seorang teman, Iwang dari PSDK. Iwang sangat familiar dengan kawasan ini karena berperan menjadi pendamping korban banjir di Baleendah.

Baleendah merupakan daerah langganan banjir di Kabupaten Bandung sejak puluhan tahun lalu sampai sekarang. Banjir tersebut semakin lama semakin parah. Saking parahnya, ketinggian banjir bahkan bisa melebihi atap rumah warga. Pada tahun 1970 sampai 1980-an, 90% wilayah Baleendah adalah daerah pertanian (persawahan). Namun sejak Kecamatan Baleendah direncanakan menjadi ibu kota Kabupaten Bandung pada tahun 1980-an, dimulailah pembangunan berbagai sarana dan prasarana di wilayah tersebut, termasuk di antaranya perumahan, tempat ibadah, sekolah. Pembangunan ini mengubah sebagian besar wilayah pertanian menjadi gedung-gedung. Saat ini, kondisi wilayah tersebut telah berubah sangat drastis. Banyak pabrik dan pemukiman yang berdiri di kawasan itu dan sayangnya sebagian besar limbahnya dibuang ke badan Sungai Citarum.

Bersama Iwang, kami menyusuri sudut-sudut pemukiman warga di sepanjang bantaran Sungai Citarum sampai ke posko banjir. Selama perjalanan, masih terlihat bekas batas banjir di tembok-tembok rumah warga. Beberapa rumah bahkan sampai dibiarkan kosong. Mungkin penghuninya sudah pindah dan tidak tinggal di sana lagi. Sepanjang perjalanan, banyak sampah yang berserakan di sekitar dan di dalam sungai. Bisa jadi ini merupakan salah satu penyebab banjir. Pada saat terjadi banjir, sampahnya pun ikut terbawa dan ada yang masih tersangkut di beberapa tiang atau penyangga. Di sepanjang Sungai, beberapa pipa pembuangan limbah dari pabrik juga terlihat jelas. Mengingat kawasan ini dikelilingi oleh pabrik-pabrik yang kemungkinan sebagian besar membuang limbahnya di Sungai Citarum, tak heran bila air yang ada dalam Sungai Citarum ini menjadi berwarna abu-abu kehitaman.

Bantaran Sungai Citarum
Akhirnya kami tiba di bantaran Sungai Citarum. Dari kejauhan tampak ada gundukan sampah di mana-mana. Di sekitar kolong jembatan Desa Baleendah yang menghubungkan antara Kampung Citeureup dan Kampung Cieunteung, terjadi banyak pendangkalan di Sungai Citarum. Kondisi air sangat keruh dengan warna abu kehitam-hitaman. Beberapa warga tampak sedang menjaring ikan. Entah ikannya banyak atau tidak, tapi kemungkinan besar ikan tersebut sudah bisa beradaptasi dengan racun-racun yang ada dalam aliran Sungai Citarum.

Akhirnya kami bertemu dengan Pak Jaja, ketua RW 20 Kampung Cieunteung, Desa Baleendah, Kecamatan Baleendah. Di sana terlihat jelas kondisi rumah-rumah yang terkena banjir. Hal ini bisa dipahami mengingat desa ini adalah salah satu tempat langganan banjir terparah. Bahkan bisa mencapai 3 meter! Banyak rumah-rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya.

Diskusi antara teman-teman LSM Sumba dan Pak Jaja pun mengalir. Dari penuturan Pak Jaja, ada dua hal yang menjadi penghambat penyelesaian masalah banjir di sana, yaitu limbah pabrik dan adanya banjir kiriman. Pak Jaja berharap agar mereka tidak mewariskan alam yang rusak untuk anak cucunya.

Saya pun mengamati saluran air yang ada di sekitar. Ternyata di sana pun airnya berwarna abu-abu kehitaman. Air sungai di sana telah bercampur dengan air yang berasal dari buangan limbah pabrik. Harapan Pak Jaja perlu kita dukung. Anak cucu kita seharusnya berhak mendapatkan air yang bersih dan alam yang subur. 

Daerah Wisata di Ciwidey
Sekitar jam 10.30 kami pamit. Perjalanan dilanjutkan ke lokasi berikutnya, Ecovillage di Bandasari. Sebelum ke Bandasari, kami singgah ke Ciwidey, tepatnya daerah Kawah Putih, salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Kami tidak bisa berlama-lama di sana, karena kabut mulai turun dan bau belerang semakin menyengat. Kami melanjutkan menikmati kesejukan alam di tempat pemandian air panas, yang masih berada di daerah Ciwidey. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merendam kaki-kaki kami yang penat setelah berjalan-jalan di lokasi sebelumnya. Rasanya segar sekali.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandasari, belum lengkap rasanya bila kami tidak menyapa perut yang minta diisi. Kami menyempatkan diri makan siang di Restaurant Saung Gawir dengan menu khas Jawa Barat seperti ulukutek (campuran oncom dan leunca), karedok (Campuran sayur-sayuran dengan bumbu kacang, sejenis gado-gado), sambal terasi, lalap, tahu tempe, dan lain-lain.

Setelah satu jam perjalanan, sampailah kami di Desa Bandasari. Kawasan seluas dua hektar ini merupakan lahan bersama antara Kail dan YPBB. Di kawasan ini akan dibangun pemukiman dengan konsep ecovillage, termasuk di dalamnya lahan yang dirancang dengan prinsip-prinsip permakultur. Saat menginjakkan kaki di sana, dari kejauhan sudah tampak beberapa sudut pembenihan dan penanaman sayur-sayuran.

Sesampainya di sana, kami beristirahat sejenak menikmati minuman hangat (bandrek, kopi atau susu murni) dan makanan ringan yang sudah disediakan. Setelah cukup puas makan-makan, Gungun (YPBB) sebagai pemandu mengajak peserta mengelilingi kawasan Ecovillage Bandasari. Penjelajahan dimulai dari bagian perangkat biodigester yang berasal dari kotoran sapi dan kotoran manusia (septic tank). Hasilnya yang berupa gas dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur. Sementara hasil yang berupa pupuk digunakan untuk menyuburkan tanah di lahan yang akan digarap, lahan tanam dan kolam ikan.

Dari bagian biodigester, kami berjalan-jalan menjelajahi bagian-bagian lain kawasan. Ada lahan pembibitan dan sayuran yang siap panen. Semua sayuran itu terlihat sangat segar dan menggoda untuk dipanen. Pulangnya, kami dibekali sayuran organik tersebut J.





Beragam Jenis Sayuran Organik di Bandasari

Teman-teman Sumba sangat menikmati suasana di Bandasari. Meski hari sudah hampir gelap, rasanya enggan sekali meninggalkan kesejukan dan kenyamanan Bandasari. Kalau tidak ingat waktu, ingin rasanya kami tinggal di sana lebih lama lagi. Foto Bersama.


Akhirnya sekitar pukul enam sore kami pulang menuju kota Bandung. Kami pulang kembali ke Bandung membawa kenangan bagaimana material yang ada dikelola dengan konsep siklus tertutup dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengelola kawasan tersebut. Beberapa peserta terinspirasi untuk membangun kampungnya dengan konsep serupa.

Secara keseluruhan acara kunjungan ini sangat menyenangkan dan membuka mata, hati dan pikiran teman-teman LSM Sumba. Semoga dengan membandingkan antara kondisi alam Sumba dan Bandung, masih ada secercah harapan untuk Pulau Sumba dalam melaksanakan pembangunan tanpa merusak kondisi alam mereka. Seperti kata Ibu Trouce Landukara (Oce), salah satu peserta dari LSM Sandika, bahwa setelah kunjungan ini ada banyak inspirasi yang bisa dilakukan sesampainya di Sumba nanti.



***

Sabtu, 09 Mei 2015

Pengorganisasian dan Gender

Penulis: Navita K. Astuti

Pada tanggal 3 Mei 2015 hingga 5 Mei 2015 telah dilangsungkan coaching dan workshop pengorganisasian masyarakat dan gender bagi LSM-LSM di Sumba, bertempat di Hotel Sinar Tambolaka, Waitabula. Kegiatan ini dibawakan oleh Intan Darmawati, Theresia Iswarini, dibantu oleh Michael Zakarias dan Heri Irawan.

Di hari pertama, tanggal 3 Mei 2015, telah dilakukan pendampingan (coaching) oleh Intan Darmawati kepada tiap-tiap LSM yang bersedia. Sifatnya opsional, bagi LSM yang berminat untuk melakukan konsultasi.

Di hari kedua, tanggal 4 Mei 2015, diadakan workshop tentang pengorganisasian berbasis gender, yang diawali dengan menonton film Chocolate dan Burning Season. Dari kedua film tersebut, peserta diajak untuk merefleksikan tujuan dari sebuah pengorganisasian, prinsip-prinsip dan nilai apa yang perlu dipegang dalam pengorganisasian. Kemudian, Theresia Iswarini mengajak untuk merefleksikan, keberpihakan seperti apa yang dituju dalam sebuah pengorganisasian.

Di hari ketiga, tanggal 5 Mei 2015, pada sesi pagi masih melanjutkan pembahasan tentang pengorganisasian masyarakat serta hubungannya dengan kebudayaan yang mendarahdaging di dalam sebuah masyarakat tertentu. Dalam hari itu, Theresia Iswarini, mengajak peserta pelatihan untuk memikirkan tahapan sistematis dalam sebuah pengorganisasian. Pada sesi siang menjelang sore, workshop diakhiri dengan materi berjudul Kepemimpinan Perempuan yang dibawakan oleh Intan Darmawati.

Kamis, 30 April 2015

Lima LSM Sumba Belajar Melakukan Monitoring, Evaluasi dan Membuat Laporan

Penulis: Any Sulistyowati

Coaching dengan Yayasan Bahtera
Pada tanggal 20-25 April 2015 yang lalu, Tim Fasilitator KAIL berkeliling Sumba untuk melakukan pendampingan terhadap lima LSM peserta program peningkatan kapasitas LSM Sumba. Lima LSM ini adalah penerima hibah dari Hivos untuk program penguatan ekonomi perempuan di Pulau Sumba selama setahun mulai bulan September 2014. Pendampingan kali ini berfokus pada memperdalam proses monitoring, evaluasi dan pembuatan laporan proyek. Setiap organisasi mendapatkan jatah pendampingan selama sehari yang dipandu oleh seorang mentor.

Coaching dengan Sandika
Selama proses mentoring, para peserta dari setiap organisasi diajak merefleksikan pengalamannya dalam pelaksanaan proyek sampai saat ini. Pertama-tama, peserta diminta untuk menceritakan hal-hal yang mereka anggap sebagai capaian proyek mulai September 2014 – Maret 2015. Setelah itu mereka melakukan analisis capaian proyek dengan membandingkan dengan daftar indikator yang terdapat di dalam proposal/kontrak. Pada tahap ini mereka melihat kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah berjalan dan belum berjalan dan apa alasannya. Mereka juga melakukan penilaian sejauh mana indikator keberhasilan proyek telah dicapai sampai saat ini. Setelah itu mereka melakukan identifikasi gap dalam pengelolaan proyek. Hal-hal apa saja yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki. Setelah itu mereka berlatih membuat laporan berdasarkan hal-hal yang sudah diceritakan. KAIL akan menyusun laporan proses pendampingan ini dan mengirimkannya kepada masing-masing organisasi. Laporan tersebut diharapkan dapat membantu organisasi-organisasi tersebut dalam melakukan monitoring dan evaluasi selanjutnya dan menyusun laporan akhir pelaksanaan proyeknya nanti.

Selasa, 31 Maret 2015

LSM Sumba belajar Sistem Teknologi dan Ekonomi untuk Pembangunan Berkelanjutan di Waingapu

Pada tanggal 24-28 Maret 2015 yang lalu, KAIL kembali menyelenggarakan pelatihan untuk peningkatan kapasitas LSM Sumba. Pelatihan kali ini mengangkat topik Pengembangan Sistem Ekonomi dan Teknologi untuk Pembangunan Berkelanjutan. Pelatihan ini berlangsung di Hotel Tanto, Kota Waingapu, Sumba Timur dan dihadiri oleh sepuluh orang perwakilan dari lima LSM Sumba, yaitu Yayasan Sosial Donders, Yasalti, Sandika, Lembaga Pelita dan Yayasan Bahtera.

Bertindak sebagai trainer adalah Tim Trainer dari YPBB, Bandung. Dalam pelatihan kali ini, peserta diajak untuk menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan di dalam konteks pemilihan teknologi dan sistem ekonomi untuk mencapai Sumba Iconic Island yang berkelanjutan.

Selama pelatihan, peserta dipandu untuk memahami berbagai sistem instrumen sosial, ekonomi, politik dan teknologi yang banyak digunakan saat ini, memahami paradigma di balik setiap pilihan teknologi dan sistem ekonomi berikut dampaknya terhadap keberlanjutan, melakukan analisis keberlanjutan berbagai pilihan teknologi dan sistem ekonomi berdasarkan konsep ekoefisiensi dan berlatih merancang sistem ekonomi dan pilihan teknologi yang sesuai untuk keberlanjutan Pulau Sumba, khususnya di wilayah dampingan masing-masing.

Materi utama pelatihan ini terdiri dari dua bagian, yaitu mengenai (1) Teknologi Berkelanjutan dan (2) Sistem Ekonomi Berkelanjutan. Dalam pokok bahasan mengenai Teknologi, materi-materi yang diberikan di antaranya adalah Mengenal Berbagai Bentuk Teknologi, Melakukan Kajian Nilai Keberlanjutan Teknologi dan Membuat Pemilihan Teknologi yang sesuai hukum-hukum Keberlanjutan. Dalam pokok bahasan Ekonomi, peserta belajar tentang Paradigma Sistem Sosial Ekonomi yang berjalan sekarang, prinsip-prinsip ekonomi yang berkelanjutan, dan berlatih merancang sebuah sistem ekonomi yang lebih berkelanjutan di kampung dampingan masing-masing. Di hari terakhir pelatihan, peserta belajar merancang sistem ekonomi dan teknologi yang mendorong keberlanjutan.

Salah satu aspek keberlanjutan yang banyak diulas di dalam pelatihan ini adalah siklus materi. Sistem ekonomi yang sekarang kebanyakan dirancang dengan siklus materi terbuka yang menyebabkan eksploitasi sumberdaya alam berlebihan, kebocoran aliran materi dan penumpukan materi yang tidak digunakan dalam bentuk limbah. Sistem ekonomi semacam ini tidak berkelanjutan karena selain berdampak pada alam, juga pada akhirnya akan menimbulkan masalah bagi manusia dalam bentuk berbagai penyakit, kelangkaan sumberdaya dan bencana alam. ***

Sabtu, 07 Maret 2015

Pelatihan Pembangunan Berkelanjutan di Sumba Barat Daya

Pada tanggal 23-27 Februari 2015 yang lalu, Kail kembali menyelenggarakan peningkatan kapasitas untuk lima LSM Sumba. Pelatihan kali ini bertema Pembangunan Berkelanjutan yang bertempat di Ruang Pertemuan Asrama SOS Donders di Waitabula, Sumba Barat Daya. Pelatihan ini dihadiri oleh sepuluh orang peserta perwakilan dari kelima LSM tersebut. Sebagai trainer, KAIL mengundang tim trainer YPBB, yaitu David Sutasurya dan Fictor Ferdinand. Bertindak sebagai tim pendukung dari KAIL adalah Melly Amalia, Any Sulistyowati dan Yosepin Sri Ningsih.

Pelatihan ini bertujuan agar peserta memahami Prinsip-Prinsip Pembangunan Berkelanjutan, Kerangka Pikir Pembangunan Berkelanjutan sehingga dapat merumuskan secara mandiri arahan umum untuk untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Sumba serta dapat merumuskan langkah-langkah kecil mulai dari diri sendiri untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Sumba.

Pelatihan ini dibuka oleh Pater Michael dari Donders. Pater menceritakan visi Donders untuk Sumba yang akan datang. Pelatihan lima hari ini dipandu oleh Tim Trainer dari YPBB yang akan membawakan materi seputar Pembangunan Berkelanjutan. Adapun materi-materi yang diberikan antara lain adalah mengenai Konsep Daya Dukung, Hukum-hukum Keberlanjutan, Strategi Keberlanjutan, Paradigma Pembangunan Berkelanjutan, Kerangka Keberlanjutan, Infrastruktur Alam dan Visi Pembangunan Berkelanjutan. Selain ceramah, selama pelatihan, tim trainer menggunakan berbagai metode seperti menggambar kolaboratif, berbagai simulasi, diskusi kelompok dan menonton film. Pada hari kelima, pelatihan ditutup oleh Pater Michael dari Donders.

Dari hasil evaluasi pada akhir pelatihan, pada umumnya peserta dapat menerima dan memahami materi dengan baik. Beberapa materi dianggap secara khusus menarik karena sesuai dengan kondisi kampung yang didampingi dan juga kehidupan sehari-hari mereka. Konteks lokal pada konsep-konsep pembangunan berkelanjutan yang disampaikan, misalnya dalam bentuk studi kasus, sangat membantu peserta memahami konsep maupun menggagas aplikasinya pada program-program yang mereka jalankan. ***

Minggu, 18 Januari 2015

Lima LSM Sumba Belajar Bersama di Waikabubak

Penulis: Agustein Okamita

Para Peserta Lokakarya dan Fasilitator
Pada tanggal 6 sampai 10 Januari 2015 diadakan sebuah lokakarya untuk meningkatkan kapasitas personil lima LSM di Sumba. Lokakarya ini dipandu oleh Tim KAIL, sebuah LSM di Bandung dengan materi pembelajaran mengenai Kepemimpinan Pribadi, Teori Perubahan, Pengelolaan Keuangan dan Waktu Rumah Tangga. Lokakarya kali ini berlangsung di Hotel Manandang, Kota Waikabubak, Sumba Barat. Pelatihan diikuti oleh sepuluh orang peserta dari lima organisasi di Sumba yaitu Lembaga Pelita, Yasalti, Yayasan Bahtera, Yayasan Sosial Donders, dan Sandika. Tim KAIL yang terlibat sebagai fasilitator/trainer adalah: Any Sulistyowati (Any), Bernadeta Ratna Kristanti Iswari (Deta), Melly Amalia (Melly) dan Agustein Okamita (Titin).

Hari pertama dimulai dengan pembukaan oleh Bernadeta Ratna Kristanti Iswari (Deta). Deta memandu peserta untuk menuliskan harapan-harapan dan kekuatiran-kekuatirannya selama lokakarya ini. Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman peserta selama pelatihan tahun 2014 yang lalu. Setelah istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan sesi Memahami Diriku, yang difasilitasi oleh Melly Amalia. Pada sesi ini, peserta diajak untuk melihat kembali kehidupan mereka sejak lahir sampai mereka dewasa, melalui penggambaran ‘Sungai Kehidupan’ mereka. Setelah selesai menggambar, para peserta berbagi cerita tentang ‘Sungai Kehidupan’ mereka kepada peserta yang lain. 

Berbagi Cerita Sungai Kehidupan
Hari kedua dan ketiga, peserta belajar tentang Teori Perubahan yang dipandu oleh Any Sulistyowati (Any) dan seluruh tim fasilitator KAIL sebagai mentor kelompok. Di awal sesi, fasilitator mengajak peserta untuk berbagi hasil refleksi mereka selama hari pertama kepada satu orang peserta yang lain. Setelah membagikan hasil refleksi, para peserta menyusun visi atau panggilan hidup pribadi, dengan melihat kembali sungai kehidupan mereka. Pada sesi kedua, peserta diajak untuk menuangkan visi pribadi mereka ke dalam diagram TOC (Theory of Change/ Teori Perubahan). Setelah itu, para peserta saling menceritakan diagram yang telah mereka buat dengan salah satu temannya. Pada sesi terakhir, fasilitator menjelaskan tentang asumsi, dan kegiatan hari itu ditutup dengan menuliskan asumsi-asumsi untuk setiap tahapan pada diagram TOC masing-masing peserta.

Pada hari ketiga para peserta melanjutkan kegiatan dengan memeriksa kembali diagram TOC serta asumsi-asumsi yang telah mereka buat. Para peserta melakukan pemeriksaan dengan serius, sampai tiba makan siang. Setelah makan siang, acara hari itu dilanjutkan dengan penjelasan mengenai Dimensi Perubahan dan Ruang Perubahan (Sphere of Changes) oleh fasilitator. Sesi ini dilanjutkan dengan pemetaan Dimensi Perubahan dan Ruang Perubahan dari TOC masing-masing peserta. Pada sesi terakhir, para peserta bersama-sama membuat sebuah lagu berjudul Bintang Kehidupan berdasarkan visi mereka bersama.

Materi hari keempat berfokus pada materi Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga yang dibawakan oleh Agustein Okamita (Titin). Sesi pertama hari keempat dimulai dengan Pengantar Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga. Selanjutnya para peserta diajak untuk mengisi tabel pendataan pengeluaran selama satu bulan terakhir. Pengisian tabel ini ditujukan untuk menganalisis pengelolaan keuangan yang mereka lakukan selama ini. Sesi selanjutnya, para peserta berbagi hasil analisis pengelolaan keuangan rumah tangga masing-masing dengan semua peserta lain. Pada sesi terakhir fasilitator mengajak para peserta merefleksikan hasil analisis pengelolaan keuangan mereka.

Pada hari kelima, atau hari terakhir, peserta belajar tentang Pengelolaan Waktu yang dipandu oleh Melly Amalia (Melly). Sesi diawali dengan para peserta menyanyikan lagu ciptaan mereka bersama, yang berjudul ‘Bintang Kehidupan’. Pada sesi pertama peserta mencoba menganalisis penggunaan waktu mereka selama ini dengan mengisi tabel penggunaan waktu yang diberikan oleh fasilitator. Sesi kedua diisi dengan berbagi hasil pengelolaan waktu para peserta dengan dua peserta yang lain. Setelah itu, mereka berkumpul kembali untuk mendiskusikan hasil diskusi tiap kelompok dengan kelompok yang lain. Sesi terakhir adalah refleksi hasil praktek manajemen waktu dan rencana tindak lanjut proses peningkatan kapasitas tersebut. Seluruh rangkaian kegiatan workshop selama lima hari itu ditutup dengan membaca kembali harapan-harapan peserta, dan menyanyikan kembali lagu ‘Bintang Kehidupan’ yang disusun bersama oleh semua peserta.

 ***

Minggu, 21 Desember 2014

Pendampingan Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif untuk lima LSM di Sumba

Penulis: Any Sulistyowati

Pada tanggal 3-13 Desember 2014 yang lalu, diselenggarakan pendampingan mengenai Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif di lima LSM peserta program peningkatan kapasitas LSM Sumba. Lima LSM ini adalah penerima hibah dari Hivos untuk program penguatan ekonomi perempuan di Pulau Sumba pada periode September 2014 – September 2015.

Proses pendampingan dilakukan secara berkeliling di kelima organisasi. Bertindak sebagai pendamping adalah Waspotrianto (ELSPPAT), Abdul Jalil (ARKOM), dan Panji Jarmiko (ARKOM). Masing-masing organisasi mendapatkan kesempatan 3-5 hari pendampingan untuk topik tersebut. Proses belajar dapat berlangsung di kantor organisasi masing-masing atau di lapangan dengan metode-metode yang dirancang sesuai dengan kebutuhan masing-masing organisasi.

Sebelum melakukan proses pendampingan, para pendamping mendiskusikan materi dan bahan-bahan belajar dengan peserta melalui diskusi yang partisipatif. Harapannya agar setiap organisasi mendapatkan manfaat maksimal dari proses pendampingan ini. Selain ketiga mentor, para peserta juga didampingi oleh Intan Darmawati untuk memperkuat aspek gender di dalam proses pengorganisasian mereka. ***

Rabu, 10 Desember 2014

Lokakarya Pembukaan Peningkatan Kapasitas LSM Sumba

Penulis: Any Sulistyowati


Lokakarya Pembukaan Peningkatan Kapasitas LSM Sumba Lokakarya ini adalah kegiatan pertama dari rangkaian program peningkatan kapasitas untuk LSM Sumba yang difasilitasi oleh Kuncup Padang Ilalang (KAIL), sebuah LSM dari Bandung yang berfokus untuk mendukung kerja-kerja perubahan sosial. Lokakarya ini diikuti oleh lima LSM di Sumba yang terpilih untuk mendapatkan dukungan dana dari Hivos untuk program penguatan perempuan di Sumba. Kelima LSM tersebut adalah: Yayasan Sosial Donders, Yayasan Wali Ati (Yasalti), Yayasan Bahtera, Sandika dan Lembaga Pelita. Peserta pelatihan berjumlah 12 orang perwakilan dari kelima organisasi.

Lokakarya ini berlangsung di Hotel Elvin, Waingapu, pada tanggal 1-2 Desember 2014. Hasil yang diharapkan dari lokakarya ini adalah peserta berbagi hasil pelaksanaan proyek HIVOS di organisasi masing-masing dan perencanaan pendampingan untuk peningkatan kapasitas organisasi untuk materi Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif.

Bertindak sebagai fasilitator adalah Any Sulistyowati dan B. Ratna K. Iswari dari KAIL. Sementara sebagai narasumber Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif adalah Waspotrianto dari ELSPPAT, Abdul Jalil dan Panji Jarmiko dari ARKOM Jogya. Intan Darmawati sebagai spesialis gender berperan untuk mengintegrasikan aspek gender di dalam materi-materi tersebut.

Donders
Yayasan Bahtera
Yasalti
Lembaga Pelita Sumba
Sandika
Selama dua hari lokakarya ini peserta berproses bersama untuk saling berbagi pengalaman penerapan proyeknya di lapangan dan mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kapasitas mereka. Kemudian mereka menyepakati kalender kegiatan peningkatan kapasitas selama setahun ke depan. Mereka juga mendengarkan presentasi tentang Sumba Iconic Island dari Ibu Gita Meidita sebagai perwakilan dari HIVOS. Pada bagian akhir, mereka menyepakati jadwal pendampingan untuk materi Pengorganisasian Masyarakat dan Pemetaan Partisipatif di organisasi masing-masing.

Pleno1: Donders

Pleno 2: Yasalti

Pleno 3: Yayasan Bahtera

Pleno 4: Lembaga Pelita Sumba

Pleno 5: Sandika